Putra Daerah, Tanggung Jawab, dan Ilusi Inspirasi: Membaca Ulang Arah Kepemimpinan di Jambi
TRENDING POST – Narasi tentang kesuksesan yang bisa diraih di mana saja kembali digaungkan dalam pertemuan antara Maulana dan Rahmat Trianto. Sekilas, pesan ini terdengar inspiratif,mendorong generasi muda untuk merantau, menaklukkan tantangan, dan membangun prestasi di berbagai penjuru negeri.
Namun, di balik itu, tersimpan satu pertanyaan fundamental yang jarang disentuh: jika semua didorong untuk sukses di luar, lalu siapa yang akan bertarung total untuk membangun tanah kelahirannya sendiri?
Di sinilah letak paradoks besar dalam arah narasi pembangunan hari ini.
Rizqan al mubarrok Sebagai putra asli Provinsi Jambi, saya memandang bahwa kepemimpinan bukan sekadar simbol keberhasilan personal, melainkan amanah peradaban. Ia menuntut bukan hanya kecerdasan, tetapi juga akar ikatan historis, emosional, dan kultural dengan tanah yang dipimpin.
Dalam realitas politik praktis saat ini, jabatan kepala daerah kerap direduksi menjadi panggung simbolik. Padahal, fakta di lapangan berbicara lain. Jalan dalam perkotaan yang masih banyak rusak,Temuan Badan Pemeriksa Keuangan terkait ribuan izin bermasalah di era Pasangan Syarif Fasha dan Maulana hingga detik ini belum sepenuhnya terang ke publik. Proyek mangkrak, persoalan tata kelola, hingga isu fee proyek masih menjadi bayang-bayang serius yang mengancam kualitas pembangunan dan kepercayaan rakyat.
Dalam kondisi seperti ini, publik tidak membutuhkan narasi inspiratif,mereka membutuhkan kepastian, keberanian, dan keberpihakan nyata kepada rakyat.
Lebih jauh, perlu ditegaskan satu hal mendasar:
menjadi pemimpin di daerah lain bukanlah simbol kesuksesan, melainkan tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Seorang kepala daerah bukan pengusaha yang sedang memperluas cabang usaha di perantauan. Ia adalah pemegang amanah rakyat, yang setiap kebijakannya menyangkut nasib publik. Maka, ruang kekuasaan tidak boleh disalahartikan sebagai peluang untuk memperkaya diri dari fasilitas negara.
Pemimpin adalah ranah pengabdian,bukan panggung akumulasi kekayaan yang bukan haknya.
Di titik ini, garis pembeda menjadi sangat jelas:
antara mereka yang datang untuk benar benar untuk mengabdi, dan mereka yang datang berambisi besar memanfaatkan untuk kepentingan karir pribadi ataupun memperkaya diri di tengah kesusahan Rakyat.
Logika sederhana bisa kita tarik: tidak mungkin sebuah RT dipimpin oleh orang yang baru datang tanpa memahami denyut warganya. Tidak mungkin sebuah kota melesat pesat jika dipimpin oleh figur yang tidak memiliki keterikatan historis dengan problem sosialnya. Dan lebih jauh lagi,tidak mungkin sebuah negara berdaulat seperti Indonesia dipimpin oleh orang dari negara lain.
Logika ini linier, konsisten, dan tidak terbantahkan.
Maka, dalam konteks daerah, menjadi relevan untuk menegaskan bahwa putra daerah memiliki legitimasi moral yang lebih kuat untuk memimpin wilayahnya sendiri,bukan sebagai bentuk eksklusivitas sempit, tetapi sebagai konsekuensi dari kedalaman keterikatan dan tanggung jawab moral kepada publik.
Sejarah memberikan cukup bukti. Joko Widodo saat memimpin Solo mampu membangun dari akar karena memahami denyut kota tersebut. Estafet itu kemudian dilanjutkan oleh Gibran Rakabuming Raka yang juga tumbuh dari konteks sosial yang sama.
Di Jawa Barat, figur seperti Dedi Mulyadi,yang dikenal luas sebagai Kang Dedi Mulyadi menunjukkan bagaimana kedekatan dengan budaya lokal, nilai kearifan tradisional, dan identitas daerah mampu menjadi kekuatan transformasi sosial yang nyata.
Mereka bukan hanya memimpin secara administratif, tetapi juga secara kultural.
Dari sini kita belajar bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya soal kapasitas teknokratis, tetapi juga kedalaman rasa memiliki.
Oleh karena itu, pandangan Ketua Aliansi Wartawan Nasional Indonesia Provinsi Jambi tegas:
setiap daerah harus dipimpin oleh putra-putra terbaiknya sendiri,dari tingkat paling bawah hingga tingkat nasional.
Bukan karena sempitnya perspektif, tetapi karena luasnya tanggung jawab.
Sebab jika arah ini diabaikan, maka kita akan menghadapi satu risiko besar: daerah kehilangan penjaganya, budaya kehilangan pewarisnya, dan rakyat kehilangan pemimpin yang benar-benar memahami mereka.
Inspirasi untuk sukses di luar daerah memang penting. Namun dalam hirarki nilai pengabdian, membangun tanah kelahiran adalah puncak tertinggi dari keberhasilan itu sendiri.
Dan pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling jauh pergi , melainkan siapa yang paling besar memberi arti bagi tanah tempat ia berasal.
Salam Perjuangan Rakyat.