Kritik Pedas Dedi Mulyadi Soal Pajak Kendaraan Dinas: “Jangan Sampai Anggaran Berputar di Situ-Situ Saja”
VIRAL POST – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali melontarkan kritik tajam terhadap praktik birokrasi yang dinilai tidak efisien. Dalam rapat bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD), ia menyoroti kebijakan pembayaran pajak kendaraan dinas yang dianggap hanya membuat anggaran pemerintah berputar di lingkup yang sama tanpa memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Menurut Dedi, mekanisme tersebut pada dasarnya hanya memindahkan anggaran dari satu pos pemerintah ke pos lainnya, tanpa menghasilkan manfaat langsung bagi publik.
“Jangan sampai anggaran hanya berputar di situ-situ saja,” tegasnya dalam rapat yang langsung menyita perhatian banyak pihak.
KDM sapaan akrab Dedi Mulyadi ,menilai dana yang selama ini dialokasikan untuk membayar pajak kendaraan dinas jumlahnya tidak kecil. Jika dikelola dengan pendekatan yang lebih efisien, anggaran tersebut bisa dialihkan untuk kebutuhan publik yang jauh lebih terasa dampaknya.
Ia menyebut pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, trotoar, hingga fasilitas publik lainnya sebagai contoh penggunaan anggaran yang lebih prioritas.
Pernyataan tersebut segera memicu perhatian luas. Sejumlah kalangan menilai langkah KDM sebagai bentuk kritik terhadap pola birokrasi lama yang kerap dinilai boros dan kurang efektif dalam pengelolaan keuangan daerah.
Selain menyoroti efisiensi anggaran, Dedi juga meminta seluruh OPD di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk lebih kreatif dalam meningkatkan pendapatan daerah.
Menurutnya, inovasi dalam pengelolaan keuangan dan pelayanan publik menjadi kunci untuk mewujudkan visi pembangunan “Jawa Barat Istimewa.”
Langkah ini sekaligus memunculkan pertanyaan di tengah publik: apakah gagasan tersebut akan benar-benar membawa perubahan dalam cara kerja birokrasi di Jawa Barat, atau justru memicu perdebatan baru terkait mekanisme pengelolaan keuangan daerah?
Yang jelas, pernyataan Dedi kembali menunjukkan gaya kepemimpinan yang dikenal blak-blakan dan kerap menantang pola lama dalam birokrasi.