Pegiat Literasi Papua Serahkan Buku kepada Dedi Mulyadi, Dorong Pemahaman Lebih Luas tentang Persoalan dan Harapan Masyarakat Papua

0
1780181110898-1

TRENDING POST — Upaya membangun pemahaman yang lebih luas mengenai Papua melalui jalur literasi kembali mendapat perhatian publik. Dalam kegiatan Konferensi Analisis Papua Strategis (APS) III di Jayapura, pegiat literasi Papua, Angginak Sepi Wanimbo, menyerahkan dua buku kepada Dedi Mulyadi sebagai bentuk ajakan untuk memahami berbagai persoalan dan harapan masyarakat Papua melalui pendekatan pendidikan dan pengetahuan.
Penyerahan buku tersebut berlangsung di sela kegiatan konferensi yang mempertemukan berbagai kalangan, mulai dari akademisi, tokoh masyarakat, pegiat sosial, hingga pemangku kebijakan yang memiliki perhatian terhadap masa depan Papua.


Menurut Sepi Wanimbo, buku merupakan media yang efektif untuk menyampaikan realitas kehidupan masyarakat Papua secara lebih utuh dan mendalam. Ia menilai literasi dapat menjadi jalan damai dan konstruktif dalam memperkenalkan berbagai isu yang dihadapi masyarakat Papua kepada publik nasional.
“Dengan literasi, pengalaman, aspirasi, dan persoalan masyarakat dapat terdokumentasi dengan baik serta dipahami oleh masyarakat yang lebih luas,” ujarnya.


Dua buku yang diserahkan memiliki tema yang berkaitan erat dengan dinamika sosial di Papua. Salah satu buku mengangkat persoalan hak atas tanah adat bagi Orang Asli Papua, sementara buku lainnya membahas berbagai tantangan dan peluang dalam penyelesaian konflik Papua dari beragam perspektif.
Melalui buku-buku tersebut, diharapkan para pemimpin daerah dan pengambil kebijakan dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kondisi Papua, sehingga mampu menghadirkan kebijakan yang lebih inklusif dan berkeadilan.


Sementara itu, Dedi Mulyadi menyambut baik penyerahan buku tersebut dan menegaskan pentingnya menjaga kekayaan alam serta budaya Papua sebagai warisan bangsa yang tidak ternilai.
Menurutnya, Papua memiliki kekayaan lingkungan dan budaya yang harus dijaga bersama. Hutan yang luas, tanah adat, bahasa daerah, serta tradisi masyarakat setempat merupakan identitas yang perlu diwariskan kepada generasi mendatang.
“Papua memiliki kekayaan yang luar biasa. Kelestarian alam dan budaya harus menjadi perhatian bersama agar tetap terjaga untuk masa depan,” kata Dedi.


Pengamat sosial menilai pertemuan antara pegiat literasi Papua dan Gubernur Jawa Barat tersebut memiliki makna simbolis yang kuat. Di tengah berbagai tantangan pembangunan nasional, dialog berbasis pendidikan dan literasi dinilai mampu menjadi jembatan yang memperkuat hubungan antardaerah serta memperluas ruang saling memahami.


Konferensi APS III sendiri menjadi wadah pertukaran gagasan mengenai berbagai isu strategis Papua, termasuk pembangunan manusia, perlindungan hak masyarakat adat, pendidikan, lingkungan hidup, serta upaya menciptakan perdamaian yang berkelanjutan.
Momentum penyerahan buku itu menunjukkan bahwa literasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendidikan, tetapi juga sebagai instrumen membangun komunikasi dan kepercayaan antarkelompok masyarakat.

Melalui buku dan dialog budaya, berbagai persoalan yang selama ini sering dipahami secara parsial dapat dilihat secara lebih utuh dan berimbang.
Pertemuan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan Papua tidak hanya berbicara tentang infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana membangun ruang dialog, memperkuat pemahaman, serta menghargai keberagaman sebagai bagian dari identitas Indonesia.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *