“Mata Hati Soekarno”: Pameran Seni yang Menghidupkan Kembali Api Pemikiran Sang Proklamator di Bantul
BANTUL, Yogyakarta — Suasana reflektif dan sarat sejarah menyelimuti Le Gareca Space, Bantul, saat digelarnya pameran seni rupa bertajuk Mata Hati Soekarno, Sabtu (6/6/2026). Pameran ini secara khusus dipersembahkan untuk memperingati 125 tahun kelahiran Sang Proklamator, Soekarno, yang jejak pemikiran dan ideologinya masih terus menjadi bahan tafsir lintas generasi.
Pembukaan pameran turut dihadiri oleh Megawati Soekarnoputri, yang menekankan pentingnya merawat warisan pemikiran Bung Karno tidak hanya sebagai sejarah, tetapi sebagai energi kebangsaan yang terus relevan di tengah dinamika zaman.
Tafsir Seni atas Sosok Bung Karno
Pameran ini menghadirkan karya dari 47 perupa lintas generasi, yang masing-masing membawa pendekatan visual dan interpretasi berbeda terhadap kehidupan, gagasan, serta spiritualitas kebangsaan Bung Karno. Dari lukisan ekspresif hingga karya kontemporer yang simbolik, seluruh karya berupaya menangkap “mata hati” — cara melihat Bung Karno bukan sekadar tokoh politik, tetapi sebagai simbol ide, perlawanan, dan imajinasi bangsa.
Kurator pameran menyebut, “Mata Hati Soekarno” bukan sekadar pameran estetika, melainkan ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Di dalamnya, publik diajak membaca ulang sejarah melalui bahasa seni yang lebih personal dan emosional.
Ruang Refleksi Generasi Muda
Pameran ini juga diarahkan sebagai ruang edukasi dan refleksi bagi generasi muda Indonesia. Di tengah arus modernisasi dan tantangan global, nilai-nilai yang diwariskan Bung Karno seperti nasionalisme, kemandirian, dan keberanian berpikir besar kembali diangkat sebagai inspirasi.
Bantul, sebagai bagian dari Yogyakarta, dipilih sebagai lokasi pameran karena memiliki ekosistem seni yang kuat serta sejarah panjang dalam perkembangan budaya dan pergerakan intelektual di Indonesia.
Seni sebagai Jembatan Sejarah dan Masa Depan
“Mata Hati Soekarno” menegaskan bahwa seni bukan hanya medium ekspresi, tetapi juga jembatan antara sejarah dan masa depan. Melalui karya-karya yang dipamerkan, publik diajak untuk tidak berhenti pada narasi sejarah yang baku, melainkan membuka ruang tafsir baru yang lebih hidup, kritis, dan relevan.
Pameran ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif bangsa bahwa warisan pemikiran Bung Karno bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk terus dihidupkan dalam tindakan nyata generasi hari ini.
