Hashim Djojohadikusumo: Rusia Komitmen Pasokan 150 Juta Barel Minyak untuk Indonesia
TRENDING POST – Hashim Djojohadikusumo menyampaikan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto dalam kunjungan ke Moskwa, Rusia, telah melakukan pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin yang menghasilkan sejumlah komitmen kerja sama energi antara kedua negara.
Dalam pernyataannya, Hashim mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut berlangsung sekitar tiga jam dan membahas kerja sama strategis di sektor energi, khususnya minyak mentah.
“Dia (Prabowo) ke Moskwa ketemu Presiden Putin selama 3 jam dan dapat komitmen dari Presiden Putin 100 juta barel minyak, itu akan segera dikirim ke Indonesia dengan harga khusus,” ujar Hashim.
Ia menambahkan, apabila Indonesia membutuhkan tambahan pasokan, Rusia disebut kembali memberikan komitmen tambahan sebesar 50 juta barel minyak.
“Dan apabila Indonesia perlu lagi tambahan, sudah ditambah 50 juta, maka Indonesia sekarang sudah ada komitmen dari pemerintah Rusia 150 juta barel, kita bisa simpan di Indonesia untuk menghadapi masalah-masalah gejolak ekonomi,” lanjutnya.
Komitmen Energi di Tengah Dinamika Global
Pernyataan tersebut menyoroti potensi kerja sama energi antara Indonesia dan Rusia di tengah fluktuasi harga minyak global dan dinamika geopolitik yang mempengaruhi pasokan energi dunia.
Jika terealisasi, komitmen pasokan minyak dalam jumlah besar tersebut dapat menjadi bagian dari strategi ketahanan energi nasional, khususnya dalam menjaga stabilitas pasokan dan menghadapi potensi gejolak ekonomi global.
Belum Ada Konfirmasi Resmi Pemerintah
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Indonesia maupun pihak Rusia terkait detail komitmen pasokan minyak sebagaimana disampaikan tersebut.
Pemerintah biasanya akan menindaklanjuti kerja sama energi internasional melalui mekanisme resmi antarpemerintah dan lembaga terkait, termasuk evaluasi teknis dan ekonomi sebelum implementasi.
Kerja Sama Strategis Indonesia–Rusia
Indonesia dan Rusia selama ini diketahui memiliki hubungan kerja sama di berbagai sektor, termasuk perdagangan, energi, pertahanan, dan investasi. Namun, setiap kesepakatan berskala besar umumnya memerlukan pembahasan lanjutan secara teknis dan diplomatik.
