FAO Tetapkan Indonesia Produsen Beras Terbesar ASEAN, Peringkat 4 Dunia di Tengah Ancaman El Nino

0
IMG-20260629-WA0156(1)

JAKARTA – Indonesia kembali mencatatkan prestasi di sektor pangan global. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) dalam laporan Food Outlook edisi Juni 2026 menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di kawasan ASEAN sekaligus peringkat keempat dunia pada musim produksi 2026/2027.

Berdasarkan proyeksi FAO, produksi beras Indonesia diperkirakan mencapai 38,6 juta ton. Capaian tersebut menempatkan Indonesia di bawah India, China, dan Bangladesh, sekaligus menjadi negara dengan produksi beras terbesar di Asia Tenggara.

Prestasi ini diraih di tengah tantangan perubahan iklim global. FAO memproyeksikan produksi beras dunia turun sekitar 1,6 persen menjadi 552,4 juta ton akibat dampak El Nino, cuaca ekstrem, dan gangguan produksi di sejumlah negara penghasil beras utama.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil laporan resmi FAO dan bukan sekadar klaim pemerintah. Menurutnya, proyeksi produksi Indonesia melonjak signifikan dibandingkan musim 2024/2025 yang tercatat sekitar 34 juta ton.

FAO juga mencatat Indonesia sebagai negara dengan peningkatan produksi beras terbesar di antara negara-negara produsen utama dunia. Produksi nasional diperkirakan meningkat sekitar 4,5 juta ton, melampaui kenaikan yang diproyeksikan terjadi di India, Bangladesh, maupun China.

Selain produksi yang meningkat, cadangan beras nasional juga mengalami penguatan. Stok beras pemerintah telah melampaui 5 juta ton dan diperkirakan dapat meningkat hingga sekitar 7,8 juta ton selama periode 2026/2027. Kondisi tersebut dinilai turut memberikan kontribusi terhadap stabilitas pasokan beras global.

Peningkatan produksi nasional didukung oleh berbagai program pemerintah, mulai dari perluasan areal tanam, optimalisasi pompanisasi untuk lahan tadah hujan, penyediaan pupuk bersubsidi, hingga kebijakan harga gabah yang memberikan kepastian bagi petani.

Di saat sejumlah negara produsen seperti Thailand, Myanmar, Kamboja, dan India menghadapi tekanan produksi akibat perubahan iklim, Indonesia justru mampu mempertahankan tren peningkatan produksi.

Pemerintah juga terus mengantisipasi dampak El Nino yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Oktober hingga November 2026. Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Kementerian Pertanian dan BMKG memperkuat koordinasi untuk menjaga produktivitas pertanian melalui pengaturan pola tanam serta pemantauan kondisi cuaca.

Meski sejumlah kalangan memperkirakan musim kemarau panjang berpotensi menekan hasil panen di beberapa wilayah, pemerintah optimistis kebutuhan beras nasional tetap dapat dipenuhi melalui produksi domestik yang meningkat serta cadangan beras pemerintah yang kuat.

Capaian yang dicatat FAO menjadi indikator positif bagi sektor pertanian Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pilar penting ketahanan pangan dunia. Di tengah ancaman krisis pangan global, peningkatan produksi beras nasional menunjukkan bahwa penguatan sektor pertanian tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas pangan dan ekonomi nasional.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *