Iran Kecam Serangan AS sebagai Pelanggaran MoU Damai, Desak PBB Bertindak di Tengah Memanasnya Konflik Selat Hormuz

0
IMG-20260629-WA0157(1)

Iran mengecam keras serangan militer Amerika Serikat terhadap sejumlah target di pesisir selatan negara itu yang terjadi pada Jumat (26/6/2026). Pemerintah Iran menilai tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) perdamaian yang sebelumnya disepakati kedua negara.

Dalam pernyataan resminya pada Sabtu (27/6/2026), Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap komitmen diplomatik sekaligus bertentangan dengan hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Teheran menegaskan bahwa operasi militer Amerika Serikat berpotensi menggagalkan proses diplomasi yang sedang berlangsung. Iran juga menyatakan memiliki hak untuk melakukan pembelaan diri sesuai ketentuan Pasal 51 Piagam PBB apabila wilayah dan kepentingan nasionalnya diserang.

Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi militer dilakukan sebagai respons atas dugaan serangan drone Iran terhadap sebuah kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz sehari sebelumnya. Washington menyebut sasaran operasi meliputi fasilitas penyimpanan rudal, drone, serta sistem radar yang diklaim berkaitan dengan kemampuan militer Iran.

Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap sejumlah posisi militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. IRGC juga memperingatkan akan memberikan respons yang lebih besar apabila aksi militer terhadap Iran kembali dilakukan.

Iran turut mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan komunitas internasional agar tidak tinggal diam terhadap dugaan pelanggaran hukum internasional tersebut. Pemerintah Iran juga meminta negara-negara di kawasan Teluk tidak mengizinkan wilayah maupun fasilitasnya digunakan sebagai basis operasi militer terhadap Iran.

Ketegangan terjadi di tengah implementasi nota kesepahaman yang sebelumnya menjadi dasar penghentian permusuhan antara Iran dan Amerika Serikat. Kesepakatan itu mencakup komitmen menjaga stabilitas kawasan, menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz, serta membuka ruang dialog lanjutan mengenai isu keamanan regional, program nuklir Iran, dan pencabutan sanksi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyebut dugaan serangan drone terhadap kapal dagang sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah dibangun. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai tindakan militer Washington justru memperbesar risiko gagalnya proses diplomasi yang sedang diupayakan kedua negara.

Pengamat menilai meningkatnya aksi saling serang dalam beberapa hari terakhir menjadi ujian berat bagi masa depan hubungan Iran dan Amerika Serikat. Apabila eskalasi terus berlanjut, bukan hanya kesepakatan damai yang terancam runtuh, tetapi juga stabilitas kawasan Teluk serta keamanan jalur perdagangan energi dunia melalui Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Dunia kini menantikan langkah diplomatik berikutnya. PBB bersama negara-negara mediator diharapkan mampu mendorong kedua pihak kembali ke meja perundingan guna mencegah konflik berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas dan berdampak terhadap perekonomian global.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *