PILIH HIDUP SEDERHANA, PUTRA SEKDA JABAR TUAI PUJIAN: DEDI MULYADI INGATKAN BAHAYA GENGSI DAN PINJOL
BANDUNG – Keputusan putra Sekretaris Daerah Jawa Barat, Luki Haikal Fikri, untuk melangsungkan pernikahan secara sederhana bersama Safa Nisa Aulia menuai apresiasi luas dari berbagai kalangan. Di tengah tren pesta pernikahan mewah yang kerap menghabiskan biaya besar, pasangan muda ini justru memilih mengedepankan kesederhanaan dan kebermanfaatan demi masa depan rumah tangga yang akan mereka bangun.
Prosesi akad nikah berlangsung khidmat dengan kehadiran langsung Gubernur Jawa Barat, , yang turut memandu jalannya akad. Kehadiran Dedi Mulyadi sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap pilihan pasangan tersebut yang dinilai mengedepankan nilai-nilai rasionalitas, tanggung jawab, dan kesiapan hidup berkeluarga.
Luki dan Safa mengungkapkan bahwa keputusan untuk tidak menggelar pesta besar didasari pertimbangan ekonomi yang matang. Menurut mereka, dana yang semula dapat digunakan untuk pesta mewah lebih baik dialihkan menjadi modal usaha dan tabungan keluarga guna menunjang kehidupan setelah menikah.
Pilihan itu mendapat apresiasi penuh dari Dedi Mulyadi. Ia menilai langkah pasangan muda tersebut mencerminkan kedewasaan dalam menentukan prioritas hidup serta memahami esensi pernikahan yang sesungguhnya.
“Ekonomi lebih baik uangnya disimpan untuk modal usaha demi cinta yang abadi. Daripada jadi raja sehari, besok ditinggalkan oleh istri karena terjerat Bang Emok atau pinjol,” ujar Dedi Mulyadi disambut senyum dan tepuk tangan para tamu yang hadir.
Menurutnya, banyak pasangan saat ini terlalu fokus pada kemeriahan pesta hingga mengabaikan kebutuhan yang jauh lebih penting setelah pernikahan berlangsung. Tidak sedikit keluarga baru yang akhirnya terbebani utang hanya demi memenuhi gengsi sosial dan ekspektasi lingkungan.
Dedi menegaskan bahwa kehidupan rumah tangga membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat. Tabungan, modal usaha, dana darurat, serta kemampuan mengelola keuangan menjadi faktor penting yang menentukan keberlangsungan keluarga dalam jangka panjang.
Ia juga menyoroti maraknya praktik pinjaman online dan utang konsumtif yang menjebak banyak masyarakat. Fenomena tersebut, menurutnya, sering kali berawal dari kebiasaan memaksakan diri untuk tampil mewah demi mendapatkan pengakuan sosial.
Karena itu, Dedi mengajak generasi muda untuk berani memilih jalan hidup yang sederhana namun produktif. Baginya, kesuksesan rumah tangga tidak ditentukan oleh kemegahan pesta, melainkan oleh kemampuan pasangan membangun kehidupan yang stabil, harmonis, dan mandiri setelah akad nikah berlangsung.
Pernikahan Luki dan Safa akhirnya menjadi simbol bahwa kesederhanaan bukanlah kekurangan, melainkan bentuk kebijaksanaan dalam mengambil keputusan hidup. Di tengah derasnya budaya konsumtif yang berkembang di masyarakat, pasangan ini menunjukkan bahwa cinta sejati tidak harus dibuktikan melalui kemewahan, tetapi melalui komitmen untuk tumbuh bersama dan mempersiapkan masa depan dengan penuh tanggung jawab.
Pesan yang disampaikan Dedi Mulyadi dalam momen tersebut menjadi pengingat penting bagi masyarakat luas. Pernikahan bukan sekadar perayaan sehari, melainkan awal perjalanan panjang yang membutuhkan kesiapan mental, spiritual, dan ekonomi.
Dengan memilih kesederhanaan serta mengutamakan masa depan keluarga, Luki Haikal Fikri dan Safa Nisa Aulia telah memberikan teladan yang inspiratif bagi banyak pasangan muda Indonesia di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks.
