Dolar AS Melemah ke Level Terendah 10 Hari Usai Kesepakatan Damai AS-Iran, Pasar Tunggu Arah BOJ dan RBA

0
IMG-20260616-WA0094


JAKARTA — Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah ke level terendah dalam 10 hari perdagangan setelah kabar kesepakatan damai antara AS dan Iran meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, berada di level 99,66, turun sekitar 0,20 persen dibandingkan penutupan sebelumnya pada perdagangan Selasa (16/6/2026).


Pelemahan dolar terjadi seiring meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko setelah kekhawatiran konflik Timur Tengah mulai mereda. Meski demikian, indeks dolar masih mencatat penguatan sekitar 2 persen sejak konflik meningkat pada akhir Februari lalu akibat tingginya ketidakpastian global.


Kesepakatan Damai AS-Iran Tekan Permintaan Aset Aman
Pasar merespons positif pengumuman kesepakatan damai yang disebut mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari serta pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur perdagangan energi strategis yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.


Meredanya risiko konflik membuat sebagian investor mulai mengurangi kepemilikan terhadap aset safe haven seperti dolar AS dan beralih ke instrumen yang lebih berisiko.
Euro tercatat menguat ke kisaran USD 1,159, mendekati level tertinggi 10 hari di USD 1,1622 yang dicapai pada Senin (15/6). Sementara poundsterling bergerak naik ke sekitar USD 1,3413.
Namun, analis pasar menilai respons positif tersebut masih harus diuji karena normalisasi perdagangan energi dan jalur pelayaran membutuhkan kepastian implementasi di lapangan.

Investor Fokus pada Keputusan Bank Sentral Global

Pergerakan dolar berikutnya diperkirakan sangat dipengaruhi oleh keputusan bank sentral utama dunia yang berlangsung pekan ini.
Bank of Japan (BOJ) menjadi perhatian pasar karena diperkirakan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun. Kebijakan tersebut berpotensi mempersempit perbedaan suku bunga antara Jepang dan AS sehingga dapat memberikan tekanan tambahan terhadap dolar.
Yen Jepang diperdagangkan di sekitar 160,24 per dolar AS, mendekati level psikologis 160 yang sebelumnya menjadi perhatian pemerintah Jepang terkait potensi intervensi pasar.
Sementara itu, Reserve Bank of Australia (RBA) diperkirakan mempertahankan suku bunga setelah melakukan beberapa kali kenaikan sebelumnya. Dolar Australia berada di kisaran USD 0,7069 menjelang pengumuman kebijakan.
Selain BOJ dan RBA, pasar juga menunggu sikap Bank of England dan Federal Reserve AS untuk melihat arah kebijakan moneter global, terutama terkait inflasi.

Risiko Konflik dan Energi Masih Membayangi

Meski sentimen pasar membaik, investor tetap berhati-hati karena kesepakatan damai masih membutuhkan pembuktian.
Pemerintah AS menyatakan tidak akan memberikan pelonggaran sanksi terhadap Iran sebelum ada langkah nyata dari pihak terkait.
Analis menilai pasar saat ini bergerak lebih cepat dibandingkan kondisi nyata di lapangan. Stabilitas harga energi dan perdagangan global masih bergantung pada keamanan jalur pelayaran serta keberlanjutan kesepakatan.
Selain itu, permintaan minyak berpotensi meningkat karena negara-negara konsumen perlu mengisi kembali cadangan energi yang sebelumnya tertekan akibat ketidakpastian konflik.

Dampak bagi Indonesia

Pelemahan dolar AS berpotensi memberikan sentimen positif bagi Indonesia karena dapat membantu mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta menekan biaya impor, terutama komoditas yang menggunakan transaksi dolar.
Namun, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan bank sentral dunia karena perubahan cepat masih dapat terjadi apabila muncul kembali ketegangan baru.
Ke depan, arah dolar AS akan ditentukan oleh tiga faktor utama: keberhasilan implementasi kesepakatan AS-Iran, keputusan bank sentral global, serta respons pasar terhadap perkembangan ekonomi dunia.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *